Cegah Stagnasi Gerakan, DAM Nasional IMM Malang Raya Siapkan Kader Madya Hadapi Era Society 5.0
Cegah Stagnasi Gerakan, DAM Nasional IMM Malang Raya Siapkan Kader Madya Hadapi Era Society 5.0

Cegah Stagnasi Gerakan, DAM Nasional IMM Malang Raya Siapkan Kader Madya Hadapi Era Society 5.0

Cegah Stagnasi Gerakan, DAM Nasional IMM Malang Raya Siapkan Kader Madya Hadapi Era Society 5.0

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Malang Raya kembali membuktikan diri sebagai barometer gerakan mahasiswa yang adaptif terhadap zaman. Hal ini terlihat dari pelaksanaan Darul Arqam Madya Nasional (DAMNas) yang digelar di BBPPMPV BOE Arjosari, Kota Malang, Sabtu-Rabu (20-24/12/2025).

Berbeda dengan perkaderan konvensional yang seringkali terjebak pada romantisme sejarah, DAMNas kali ini mengusung tema progresif, yakni "Dialektika Manusia dan Teknologi di Era Society 5.0". Ejawantah tema tersebut tergambarkan dalam kurikulum materi yang mengawinkan kekokohan filsafat ilmu dengan kecanggihan artificial intelligence (AI).

Ketua Umum PC IMM Malang Raya, Kelvin Argo Beni, menegaskan bahwa desain DAM kali ini adalah wahana untuk mengupgrade kapasitas diri untuk menjadi kader madya, serta respons terhadap kegelisahan kader di akar rumput.

"Hari ini, musuh kita bukan lagi sekadar ketidaktahuan, tapi kebingungan akibat banjir informasi. Dulu kita bisa verifikasi data manual, sekarang AI membuat batas antara fakta dan manipulasi menjadi kabur. Maka, DAM ini didesain unik, kita tidak melarang teknologi, tapi kita belajar menungganginya dengan nalar kritis," ungkap Kelvin saat pembukaan DAM. 

Dimulai dengan materi Perkembangan Pemikiran dan Gerakan Islam, Ketua Umum DPP IMM Periode Dr. Piet Hizbullah, S.Ag., M.A. merangkum bahwa gerakan Islam modern memiliki tiga hal pokok yang harus dilakukan. Pertama orientasi ilmiah dan spiritual. Kedua, gerakan sosial yang membebaskan. 

“Terakhir adalah independensi aktivis. Menjadi aktivis harus bebas dari jebakan pragmatisme politik dan kepentingan sesaat,” tegas Piet.

Memasuki materi Transformasi Kader IMM Menuju Peradaban Utama, Staf Ahli Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Dr. Mariman Darto, S.E., M.Si. mengungkapkan transformasi kader IMM menuju peradaban utama menjadi agenda strategis yang menekankan pada tiga aspek utama, yakni perikatan kemanusiaan, perikatan kader global, dan kepedulian terhadap isu kontemporer.

Sementara dalam materi Metodologi Riset Filsafat dan Society 5.0 Kepala Biro Riset, Pengabdian dan Kerjasama UMM Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.PA, menjelaskan bahwa Society 5.0 merupakan konsep masyarakat masa depan yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi untuk menyelesaikan masalah.

Dalam kerangka tersebut, ia menyebut metode penelitian filosofis setidaknya mencakup tiga hal, yakni analisis konseptual untuk mengklarifikasi konsep, herrmeneutika untuk menafsirkan makna, dan fenomenologi sebagai pengalaman hidup.

Kemudian Supriadi Hardianto, S.Psi., M.Psi., Psikolog yang menjadi narasumber materi Strategi Pengembangan Organisasi Berbasis Teknologi menekankan kepada peserta bahwa kegagalan terbesar organisasi mahasiswa seringkali bermula dari kesalahan menempatkan orang atau the wrong man in the wrong place.

“Berhenti memberikan tugas hanya kepada orang yang rajin datang rapat. Mulailah memberikan tugas kepada orang yang memiliki kapabilitas untuk menyelesaikannya. Right talent, right place,” ucap Supriadi.

Selain beberapa nama diatas, DAMNas IMM Malang Raya juga turut diisi oleh tokoh-tokoh hebat yang kepakarannya tidak diragukan lagi. Seperti Sekretaris Pusat Studi Islam Berkemajuan UMM Diki Wahyudi, S.Sos., M.Si., Kaprodi Kesejahteraan Sosial FISIP UMM Hutri Agustino, S.So., M.Si., Ph.D., Kaprodi PPKn FKIP UMM Fahdian Rahmadani, S.Pd., M.Pd., dan Instruktur Nasional Manda Intan Danastri, S.H.

Di hari terakhir, Ketua DPD IMM Jawa Timur Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK)  Fadhil Faturochman, S.Si., M.Si. mengungkapkan kekhawatirannya akan musnahnya IMM di kemudian hari apabila masih terjebak dalam tradisi konvensional. 

“Tapi jangan tinggalkan konvensional juga, harus adaptasi. Ideologinya tetap, polanya, metodenya yang perlu diubah sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Fadhil.

Menurutnya, di era sekarang kunci menjadi pemimpin tidak sekadar otot dan otak, tapi juga harus bisa adaptif. Dengan demikian terdapat perbedaan dengan era primitif yang cukup bermodalkan otot, atau era kerajaan yang hanya bermodalkan otot dan otak. 

“DAMNas IMM Malang Raya ini merupakan upaya menyiapkan kader madya untuk masa depan, bukan untuk masa lampau. Harapannya, lahir gagasan dari ini untuk IMM Masa Depan,” tegas Fadhil saat menutup DAMNas IMM Malang Raya.

PC IMM Malang Raya

Profil tidak tersedia.